RISIKO ASPIRASI (D.0006)

DEFINISI
Berisiko  mengalami masuknya sekresi gastrointestinal, sekresi orofaring, benda cair atau padat kedalam saluran trakeobronchial akibat disfungsi mekanisme protektif saluran napas

FAKTOR RESIKO

  1. Penurunan tingkat kesadaran
  2. Penurunan refleks muntah dan atau batuk
  3. Gangguan menelan
  4. Disfagia
  5. Kerusakan mobilitas fisik
  6. Peningkatan residu lambung
  7. Peningkatan tekanan intragastrik
  8. Penurunan motilitas gastrointestinal
  9. Sfingter esofagus bawah inkompeten
  10. Perlambatan pengosongan lambung
  11. Terpasang selang nasogastrik
  12. Terpasang trakeostomi atau endotracheal tube
  13. Trauma/pembedahan leher, mulut, dan atau wajah
  14. Efek agen farmakologis
  15. Ketidakmampuan koordinasi menghisap, menelan, dan bernapas

KONDISI KLINIS TERKAIT

  1. Cedera kepala
  2. Stroke
  3. Cedera medula spinalis
  4. Gullaine Barre Syndrome
  5. Penyakit Parkinson
  6. Keracunan obat dan alkohol
  7. Pembesaran uterus
  8. Miestenia Gravis
  9. Fistula trakeoesofagus
  10. Striktura esofagus
  11. Sklerosis multipel
  12. Labiopalatoskizis
  13. Atresia esofagus
  14. Laringomalasia
  15. Prematuritas

POLA NAPAS TIDAK EFEKTIF (D.0005)

DEFINISI
Inspirasi dan atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi adekuat.

PENYEBAB

  1. Depresi pusat pernapasan
  2. hambatan upaya napas (mis. nyeri saat bernapas, kelemahan otot pernapasan)
  3. Deformitas dinding dada
  4. Deformitas tulang dada
  5. Gangguan Neuromuskuler
  6. Gangguan Neurologis (mis. elektroensepalogram (EEG) positif, cedera kepala, gangguan kejang)
  7. Imaturitas neurologis
  8. Penurunan energi
  9. Obesitas
  10. Posisi tubuh yang menghambat ekspansi paru
  11. Sindrom hipoventilasi
  12. Kerusakan inervasi diafragma (kerusakan saraf C5 ke atas)
  13. Cedera pada Medula spinalis
  14. Efek agen farmakologis
  15. Kecemasan

GEJALA & TANDA MAYOR

Subjektif
Dispnea

Objektif

  1. Penggunaan otot bantu pernapasan
  2. Fase ekspirasi memanjang
  3. Pola napas abnormal (mis. Takipnea, bradypnea, hiperventilasi, kussmaul, Cheyne-stokes)

GEJALA & TANDA MINOR

Subjektift
Ortopnea

Objektif

  1. Pernapasan pursed-lip
  2. Pernapasan cuping hidung
  3. Diameter thoraks anterior-posterior meningkat
  4. Ventilasi semenit menurun
  5. Kapasitas vital menurun
  6. Tekanan ekspirasi menurun
  7. Tekanan inspirasi menurun
  8. Ekskursi dada berubah

 KONDISI KLINIS TERKAIT

  1. Depresi sistem saraf pusat
  2. Cedera Kepala
  3. Trauma thoraks
  4. Gullain Bare Syndrome
  5. Multiple Sclerosis
  6. Myasthenia Gravis
  7. Stroke
  8. Kuadriplegi
  9. Intoksikasi Alkohol

GANGGUAN VENTILASI SPONTAN (D.0004)

DEFINISI
Penurunan cadangan energi yang mengakibatkan individu tidak mampu bernapas secara adekuat.

PENYEBAB

  1. Gangguan metabolisme
  2. Kelelahan otot pernapasan

GEJALA & TANDA MAYOR

Subjektif
Dispnea

Objektif

  1. Penggunaan otot bantu napas meningkat
  2. Volume tidak menurun
  3. PCO2 meningkat
  4. PO2 menurun
  5. SaO2 menurun

GEJALA & TANDA MINOR

Subjektift
t
idak tersedia

Objektif

  1. Gelisah
  2. Takikardia

 KONDISI KLINIS TERKAIT

  1. Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK)
  2. Asma
  3. Cedera kepala
  4. Gagal napas
  5. Bedah jantung
  6. Adult respiratory distress syndrome (ARDS)
  7. Persistent pulmonary hypertension of newborn (PPHN)
  8. Prematuritas
  9. Infeksi saluran napas

GANGGUAN PERTUKARAN GAS (D.0003)

DEFINISI
Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan atau eliminasi karbondioksida pada membran alveolar – kapiler

PENYEBAB

  1. Ketidakseimbangan ventilasi-perfusi
  2. Perubahan membran alveolus-kapiler

GEJALA & TANDA MAYOR

Subjektif
Dispnea

Objektif

  1. PCO2 meningkat/menurun
  2. PO2 menurun
  3. Takikardia
  4. pH arteri meningkat/menurun
  5. Bunyi napas tambahan 

GEJALA & TANDA MINOR

Subjektif

  1. Pusing
  2. Penglihatan kabur

Objektif

  1. Sianosis
  2. Diaphoresis
  3. Gelisah
  4. Napas cuping hidung
  5. Pola napas abnormal (cepat/lambat, regular/ierguler, dalam/dangkal)
  6. Warna kulit abnormal (mis. Pucat, kebiruan)
  7. Kesadaran menurun

 KONDISI KLINIS TERKAIT

  1. Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK)
  2. Gagal jantung kongestif
  3. Asma
  4. Pneumonia
  5. Tuberkulosis paru
  6. Penyakit membran hialin
  7. Asfiksia
  8. Persisten pumonary hypertension of newborn (PPHN)
  9. Prematuritas
  10. Infeksi Saluran napas

GANGGUAN PENYAPIHAN VENTILATOR (D.0002)

DEFINISI
Ketidakmampuan beradaptasi dengan pengurangan bantuan ventilator mekanik yang dapat menghambat dan memperlama proses penyapihan

PENYEBAB

Fisiologis

  1. Hipersekresi jalan nafas
  2. Ketidakcukupan energi
  3. Hambatan upaya napas (mis. nyeri saat bernafas, kelemahan otot pernafasan, efek sedasi)

Psikologis 

  1. Kecemasan
  2. Perasaan tidak berdaya
  3. Kurang terpapar informasi tentang proses penyapihan
  4. Penurunan motivasi

Situasional

  1. Ketidakadekuatan dukungan sosial
  2. Ketidaktepatan kecepatan proses penyapihan
  3. Riwayat kegagalan berulang dalam upaya penyapihan
  4. Riwayat ketergantungan ventilator >4 hari

GEJALA & TANDA MAYOR

Subjektif
Tidak tersedia

Objektif

  1. Frekuensi napas
  2. Penggunaan otot bantu napas
  3. Napas megap-megap (gasping)
  4. Upaya napas dan bantuan ventilator tidak sinkron
  5. Napas dangkal
  6. Agitasi
  7. Nilai gas darah arteri abnormal 

GEJALA & TANDA MINOR

Subjektif

  1. Lelah
  2. Kuatir mesin rusak
  3. Fokus meningkat pada pernapasan
  4. Gelisah

Objektif

  1. Auskultasi suara inspirasi menurun
  2. Warna kulit abnormal (mis. pucat, sianosis)
  3. Napas paradoks abdominal
  4. Diaforesis
  5. Ekspresi wajah takut
  6. Tekanan darah meningkat
  7. Kesadaran menurun

 KONDISI KLINIS TERKAIT

  1. Cedera kepala
  2. Coronary artery bypass graft (CABG)
  3. Gagal napas
  4. Cardiac arrest
  5. Transplantasi jantung
  6. Displasia bronkopulmonal

Laporan Pendahuluan + Konsep Askep Anemia

LAPORAN PENDAHULUAN
“ANEMIA”

I. DEFINISI
     Anemia adalah suatu kondisi dimana terjadi penurunan kadar hemoglobin (Hb) atau sel darah merah (eritrosit) sehingga menyebabkan penurunan kapasitas sel darah merah dalam membawa oksigen (Badan POM, 2011).
     Anemia didefinisikan sebagai penurunan volume eritrosit atau kadar Hb sampai di bawah rentang nilai yang berlaku untuk orang sehat. Anemia adalah gejala dari kondisi yang mendasari, seperti kehilangan komponen darah, elemen tidak adekuat atau kurang nutrisi yang dibutuhkan untuk pembentukan sel darah, yang mengakibatkan penurunan kapasitas pengangkut oksigen darah dan ada banyak tipe anemia dengan beragam penyebabnya. (Marilyn E, Doenges, Jakarta, 2012).
     Anemia adalah gejala dari kondisi yang mendasari, seperti kehilangan komponen darah, elemen tak adekuat atau kurangnya nutrisi yang dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah, yang mengakibatkan penurunan kapasitas pengangkut oksigen darah (Doenges, 2012).

II. ETIOLOGI

  1. Hemolisis (eritrosit mudah pecah)
  2. Perdarahan
  3. Penekanan sumsum tulang (misalnya oleh kanker)
  4. Defisiensi nutrient (nutrisional anemia), meliputi defisiensi besi, folic acid, piridoksin, vitamin C dan copper

       Menurut Badan POM (2011), Penyebab anemia yaitu:

  1. Kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi, vitamin B12, asam folat, vitamin C, dan unsur-unsur yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah.
  2. Darah menstruasi yang berlebihan. Wanita yang sedang menstruasi rawan terkena anemia karena kekurangan zat besi bila darah menstruasinya banyak dan dia tidak memiliki cukup persediaan zat besi.
  3. Kehamilan. Wanita yang hamil rawan terkena anemia karena janin menyerap zat besi dan vitamin untuk pertumbuhannya.
  4. Penyakit tertentu. Penyakit yang menyebabkan perdarahan terus-menerus di saluran pencernaan seperti gastritis dan radang usus buntu dapat menyebabkan anemia.
  5. Obat-obatan tertentu. Beberapa jenis obat dapat menyebabkan perdarahan lambung (aspirin, anti infl amasi, dll). Obat lainnya dapat menyebabkan masalah dalam penyerapan zat besi dan vitamin (antasid, pil KB, antiarthritis, dll).
  6. Oprasi pengambilan sebagian atau seluruh lambung (gastrektomi). Ini dapat menyebabkan anemia karena tubuh kurang menyerap zat besi dan vitamin B12.
  7. Penyakit radang kronis seperti lupus, arthritis rematik, penyakit ginjal, masalah pada kelenjar tiroid, beberapa jenis kanker dan penyakit lainnya dapat menyebabkan anemia karena mempengaruhi proses pembentukan sel darah merah.
  8. Pada anak-anak, anemia dapat terjadi karena infeksi cacing tambang, malaria, atau disentri yang menyebabkan kekurangan darah yang parah.

III. PATOFISIOLOGI
     Adanya suatu anemia mencerminkan adanya suatu kegagalan sumsum atau kehilangan sel darah merah berlebihan atau keduanya. Kegagalan sumsum (misalnya berkurangnya eritropoesis) dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi, pajanan toksik, invasi tumor atau penyebab lain yang belum diketahui. Sel darah merah dapat hilang melalui perdarahan atau hemolisis (destruksi).
     Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam sel fagositik atau dalam system retikuloendotelial, terutama dalam hati dan limpa. Hasil samping proses ini adalah bilirubin yang akan memasuki aliran darah. Setiap kenaikan destruksi sel darah merah (hemolisis) segera direfleksikan dengan peningkatan bilirubin plasma (konsentrasi normal ≤ 1 mg/dl, kadar diatas 1,5 mg/dl mengakibatkan ikterik pada sclera).
     Apabila sel darah merah mengalami penghancuran dalam sirkulasi, (pada kelainan hemplitik) maka hemoglobin akan muncul dalam plasma (hemoglobinemia). Apabila konsentrasi plasmanya melebihi kapasitas haptoglobin plasma (protein pengikat untuk hemoglobin bebas) untuk mengikat semuanya, hemoglobin akan berdifusi dalam glomerulus ginjal dan kedalam urin (hemoglobinuria).
     Kesimpulan mengenai apakah suatu anemia pada pasien disebabkan oleh penghancuran sel darah merah atau produksi sel darah merah yang tidak mencukupi biasanya dapat diperoleh dengan dasar:1. hitung retikulosit dalam sirkulasi darah; 2. derajat proliferasi sel darah merah muda dalam sumsum tulang dan cara pematangannya, seperti yang terlihat dalam biopsi; dan ada tidaknya hiperbilirubinemia dan hemoglobinemia.


IV. MANIFESTASI KLINIS

  1. Lemah, letih, lesu dan lelah
  2. Sering mengeluh pusing dan mata berkunang-kunang
  3. Gejala lanjut berupa kelopak mata, bibir, lidah, kulit dan telapak tangan menjadi pucat. Pucat oleh karena kekurangan volume darah dan Hb, vasokontri
  4. Takikardi dan bising jantung (peningkatan kecepatan aliran darah) Angina (sakit dada)
  5. Dispnea, nafas pendek, cepat capek saat aktifitas (pengiriman O2 berkurang)
  6. Sakit kepala, kelemahan, tinitus (telinga berdengung) menggambarkan berkurangnya oksigenasi pada SSP
  7. Anemia berat gangguan GI dan CHF (anoreksia, nausea, konstipasi atau diare)


V. PATHAY  (link pathway)


VI. KLASIFIKASI DAN TIPE ANEMIA
Anemia dibagi menjadi 2 tipe umum :
a) Anemia Hipropropilatif
1) Anemia Aplastik
     Anemia aplastik merupakan suatu gangguan yang mengancam jiwa pada sel induk di sum-sum tulang yang sel-sel darah diproduksi dalam jumlah yang tidak mencukupi. Anemia aplastik dapat terjadi secara congenital maupun idiopatik ( penyebabnya tidak diketahui). Secara marfologis, sel darah mer4ah terlihat normositik dan normokronik. Jumlah retikulosit rendah atau tidak ada dan biopsi sumsum tulang menunjukan keadaan yang disebut “ pungsi kering” dengan hipoplasia nyata dan penggatian dengan jarinagan lemak.
2) Anemia defisiensi besi
     Anemia defesiensi besi adalah dimana keadaan kandungan besi tubuh total turun dibawah tingkat normal. Defesiensi besi merupakan penyebab utama anemia didunia, dan tetutama seringdijumpai pada wanita usia subur, disebabkan oleh kekurangan darah sewaktu menstruasi dan peningkatan kebutuhan besi selama kehamilan. Pada anemia defisiensi besi pemeriksaan darah menunjukan jumlah sel darah merah normal atau hamper normal dan kadar Hb berkurang. Pada perifer sel darah merah Mikrositik dan Hiprokromik disertai poikilositosi dan asisositosis jumlah retikulosis dapat normal atau berkurang. Kadar besi berkurang, sedangkan kapasitas mengikat besi serum total meningkat.
3) Anemia megaloblastik
     Anemia megaloblastik disebabkan oleh defisiensi vitamin B12 dan asam volat menunjukan perubahan yang sama antara sumsum tulang dan drah tepi, karena kedua vitamin tersebut esensial bagiu sintesis DNA normal. Pada setiap kasus, terjadi hyperplasia sumsum tulang, precursor eritroit dan myeloid besara dan aneh dan beberapa mengalami multinukleasi. Tetapi beberapa sel ini mati dalam sumsum tulang, sehingga jumlah sel matang yang meninggalkan sumsum tulang menjadi sedikit dan terjadilah parisitopenia. Pada keadaan lanjut Hb dapat turun 4-5 gr/dl hitung leukosit 2000-3000/ml3 dan hitung trombosit kurang dari 50000/ml3
b) Anemia hemolitik
1) Anemia hemolitik
     Pada anemia hemolitik,eritrosit memiliki rentang usia yang memendek. Untuk mengkompensasi hal ini biasanya sumsum tulang memproduksi sel darah merah baru 3x/ lebih disbanding kecepatan normal. Pada pemerikasaan anemia hemolitik ditemukan jumlah retikulosis meningkat, fraksi bilirubin indirect meningkat,dan haptok globin biasanya rendah.
2) Anemia hemolitika turunan
– Sferositosis turunan
     Sferositosis turunan merupakan suatu anemia hemolitika ditandai dengan sel darah merah kecil berbentuk feris dan pembesaran limfa (spenomegali). Merupakan kelainan yang jarang, diturunkan secara dominant. Kelainan ini biasanya terdiagnosa pada anak-anak, namun dapat terlewat sampai dewasa karena gejalanya sangat sedikit. Penangananya berupa pengambilan limpa secara bedah.
– Anemia sel sabit
     Adalah anemia hemolitika berat akibat adanya defek pada molekul hemoglobin dan disertai dengan serangan nyeri. Anemia sel sabit ini merupakan ganggaun genetika resesif auto somal yaitu individu memperoleh Hb sabit (Hb s) dari kedua orang tua. Pasien dengan anemia sel sabit biasanya terdiagnosa pada kanak-kanak karena mereka nampak anemis ketika bayi dan mulai mengalami krisis sel sabit pada usia 1-2 tahun.

 

VII. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1) Jumlah darah lengkap (JDL) : hemoglobin dan hematokrit menurun.
2) Jumlah eritrosit : menurun, menurun berat (aplastik);

  • MCV (molume korpuskular rerata) dan MCH (hemoglobin korpuskular rerata) menurun dan mikrositik dengan eritrosit hipokronik, peningkatan. Pansitopenia (aplastik).
  • Jumlah retikulosit : bervariasi, misal; menurun, meningkat (respons sumsum tulang terhadap kehilangan darah /hemolisis).Pewarna sel darah merah : mendeteksi perubahan warna dan bentuk (dapat mengindikasikan tipe khusus anemia).
  • LED : Peningkatan menunjukkan adanya reaksi inflamasi, misal : peningkatan kerusakan sel darah merah :atau penyakit malignasi. Masa hidup sel darah merah : berguna dalam membedakan diagnosa anemia, misal : pada tipe anemia tertentu, sel darah merah mempunyai waktu hidup lebih pendek.
  • Tes kerapuhan eritrosit : menurun. SDP : jumlah sel total sama dengan sel darah merah (diferensial) mungkin meningkat (hemolitik) atau menurun (aplastik).
    Jumlah trombosit : menurun caplastik; meningkat; normal atau tinggi (hemolitik)
  • Hemoglobin elektroforesis : mengidentifikasi tipe struktur hemoglobin.
    Bilirubin serum (tak terkonjugasi): meningkat (hemolitik).
  • Folat serum dan vitamin B12 membantu mendiagnosa anemia sehubungan dengan defisiensi masukan/absorpsi.
    Besi serum : tak ada; tinggi (hemolitik)
  • BC serum : meningkat
  • Feritin serum : meningkat
  • Masa perdarahan : memanjang (aplastik)
  • LDH serum : menurun
  • Guaiak :mungkin positif untuk darah pada urine, feses, dan isi gaster, menunjukkan perdarahan akut/kronis.
  • Analisa gaster : penurunan sekresi dengan peningkatan pH dan tak adanya asam hidroklorik bebas.
  • Aspirasi sumsum tulang/pemeriksaan/biopsi : sel mungkin tampak berubah dalam jumlah, ukuran, dan bentuk, membentuk, membedakan tipe anemia, misal: peningkatan megaloblas, lemak sumsum dengan penurunan sel darah (aplastik).
  • Pemeriksaan radiografik : memeriksa sisi perdarahan : perdarahan GI

VIII. PENATALAKSANAAN
Tindakan umum: Penatalaksanaan anemia ditunjukan untuk mencari penyebab dan mengganti darah yang hilang.
1) Transpalasi sel darahmerah.
2) Antibiotik diberikan untuk mencegah infeksi
3) Suplemen asam folat dapat merangsang pembentukan sel darah merah.
4) Menghindari situasi kekurangan oksigen atau aktivitas yang membutuhkan oksigen
5) Obati penyebab perdarahan abnormal bila ada.
6) Diet kaya besi yang mengandung daging dan sayuran hijau.
Pengobatan (untuk pengobatan tergantung dari penyebabnya) :
1) Anemia defisiensi besi
Mengatur makanan yang mengandung zat besi, usahakan makanan yang diberikan seperti ikan daging, telur dan sayur, pemberian preparat fe, perrosulfat 3x200mg/hari/per oral sehabis makan, peroglukonat 3x200mg/hari/oral sehabis makan.
2) Anemia pernisiosa: pemberian vitamin B12
3) Anemia asam folat: asam folat 5 mg/hari/oral
4) Anemia karena perdarahan : mengatasi perdarahan dan syok dengan pemberian cairan dan transfuse darah.
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
“ANEMIA”

A. Pengkajian
Pengkajian pasien dengan anemia meliputi :
1) Aktivitas / stirahat
Gejala : keletihan, kelemahan, malaise umum. Kehilangan produktivitas ; penurunan semangat untuk bekerja. Toleransi terhadap latihan rendah. Kebutuhan untuk tidur dan istirahat lebih banyak.
Tanda : takikardia/ takipnae ; dispnea pada waktu bekerja atau istirahat. Letargi, menarik diri, apatis, lesu, dan kurang tertarik pada sekitarnya. Kelemahan otot, dan penurunan kekuatan. Ataksia, tubuh tidak tegak. Bahu menurun, postur lunglai, berjalan lambat, dan tanda-tanda lain yang menunujukkan keletihan.
2) Sirkulasi
Gejala : riwayat kehilangan darah kronik, misalnya perdarahan GI kronis, menstruasi berat , angina, CHF (akibat kerja jantung berlebihan). Riwayat endokarditis infektif kronis. Palpitasi (takikardia kompensasi).
Tanda : TD : peningkatan sistolik dengan diastolik stabil dan tekanan nadi melebar, hipotensi postural. Ekstremitas (warna) : Pucat pada kulit dan membrane mukosa (konjuntiva, mulut, faring, bibir) dan dasar kuku. (catatan: pada pasien kulit hitam, pucat dapat tampak sebagai keabu-abuan), pucat (aplastik) atau kuning lemon terang. Sklera : biru atau putih seperti mutiara. Pengisian kapiler melambat (penurunan aliran darah ke kapiler dan vasokontriksi kompensasi) kuku : mudah patah, berbentuk seperti sendok (koilonikia). Rambut : kering, mudah putus, menipis,tumbuh uban secara premature.
3) Integritas ego
Gejala : keyakinanan agama/budaya mempengaruhi pilihan pengobatan, misalnya penolakan transfuse darah., Tanda :depresi.
4) Eliminasi
Gejala : riwayat pielonefritis, gagal ginjal. Flatulen, sindrom malabsorpsi (DB). Hematemesis, feses dengan darah segar, melena. Diare ataukonstipasi. Penurunan haluara nurine, Tanda :distensi abdomen.
5) Makanan/cairan
Gejala : penurunan masukan diet, masukan diet protein hewani rendah/masukan produk sereal tinggi. Nyeri mulut atau lidah, kesulitan menelan (ulkus pada faring). Mual/muntah, dyspepsia, anoreksia. Adanya penurunan berat badan. Tidak pernah puas mengunyah atau peka terhadap es, kotoran ,tepung jagung,dan sebagainya.
Tanda : lidah tampak merah daging/halus (defisiensi asam folat dan vitamin B12). Membrane mukosa kering, pucat. Turgor kulit : buruk, kering, tampak kisut/hilang elastisitas. Stomatitis dan glositis (status defisiensi). Bibir : selitis, misalnya inflamasi bibir dengan sudut mulut pecah.
6) Neurosensori
Gejala : sakit kepala, berdenyut, pusing, vertigo, tinnitus, ketidak mampuan berkonsentrasi. Insomnia, penurunan penglihatan, dan bayangan pada mata. Kelemahan, keseimbangan buruk, kaki goyah ; parestesia tangan/kaki (AP) ; klaudikasi.Sensasi manjadi dingin.
Tanda : peka rangsang, gelisah, depresi cenderung tidur, apatis. Mental : tak mampu berespons, lambat dan dangkal. Oftalmik : hemoragis retina (aplastik). Epitaksis : perdarahan dari lubang-lubang (aplastik). Gangguan koordinasi, ataksia, penurunan rasa getar, dan posisi, tanda Romberg positif, paralysis.
7) Nyeri/kenyamanan
Gejala : nyeri kepala
8) Pernapasanan
Gejala : riwayat TB, abses paru. Napas : pendek pada istirahat dan aktivitas
Tanda : takipnea , ortopnea dan dispnea.
9) Keamanan
Gejala : riwayat pekerjaan terpajan terhadap bahan kimia, riwayat terpajan pada radiasi ; baik terhadap pengobatan atau kecelakaan. Riwayat kanker, terapi kanker. Tidak toleran terhadap dingin dan panas . transfusi darah sebelumnya . gangguan pengelihatan, penyembuhan luka buruk, sering infeksi, tanda : demam rendah, menggigil, berkeringat malam, limfadenopati umum, ptekie dan ekimosis (aplastik).
10) Seksualitas
Gejala : perubahan aliran menstruasi, misalnya menoragia atau amenore . hilang libidp (priadan wanita ). Imppoten.
Tanda : serviks dan dinding vagina pucat.

 

B. Diagnoasa Keperawatan
1) Perfusi perifer tidak efektif efektif b.d penurunan konsentrasi Hb dalam darah.
2) Nausea b.d Faktor Fisiologis
3) Gangguan mobilitas fisik b.d gangguan sensori perdepsi
4) Resiko infeksi b.d pertahanan sekunder tidak adekuat (penurunan Hb)
5) Intoleransi aktifitas b.d ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen.
6) Gangguan pertukaran gas b.d ventilasi perfusi
7) Ketidakefektifan pola nafas b.d keletihan
8) Keletihan b.d anemia

BERSIHAN JALAN NAPAS TIDAK EFEKTIF (D.0001)

DEFINISI
Ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan nafas untuk mempertahankan jalan nafas tetap paten.

PENYEBAB
Fisiologis

  1. Spasme jalan nafas
  2. Hiperseksresi jalan nafas
  3. Disfungsi Neuromuskuler
  4. Benda Asing dalam jalan nafas
  5. Adanya jalan nafas buatan
  6. Sekresi yang tertahan
  7. Hiperplasia dinding jalan nafas
  8. Proses infeksi
  9. Respon allergi
  10. Efek agen farmakologis (mis. Anestesi)

Situasional

  1. Merokok aktif
  2. Merokok pasif
  3. Terpajan polutan

GEJALA & TANDA MAYOR

Subjektif
Tidak tersedia

Objektif

  1. Batuk tidak efektif
  2. Tidak mampu batuk
  3. Sputum berlebih
  4. Mengi, wheezing dan/atau ronkhi kering
  5. Mekonium di jalan nafas (pada neonatus)

GEJALA & TANDA MINOR

Subjektif

  1. Dispnea
  2. Sulit bicara
  3. Orthopnea

Objektif

  1. Gelisah
  2. Sianosis
  3. Bunyi nafas menurun
  4. Frekuensi nafas berubah
  5. Pola nafas berubah

KONDISI KLINIS TERKAIT

  1. Gullian Bare Syndrome
  2. Sklerosis Multipel
  3. Myasthenia Gravis
  4. Prosedur Diagnostik (mis. Bronchoscopy, Tranesophageal Echocardiography [TEE])
  5. Depresi Sistem saraf pusat
  6. Cedera kepala
  7. Stroke
  8. Kuadriplegia
  9. Sindrom aspirasi mekonium
  10. Infeksi saluran nafas

Referensi dan Sumber Bacaan

  • PPNI (2019). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia.
  • Ackley, B. J., Ladwig, G. B., Msn, R. N., Makic, M. B. F., Martinez-Kratz, M., & Zanotti, M. (2019). Nursing Diagnosis Handbook E-Book: An Evidence-Based Guide to Planning Care. Mosby.
  • Carpenito-Moyet, L. J. (2006). Handbook of nursing diagnosis. Lippincott Williams & Wilkins.

Seorang Ibu Positif Covid-19 di Malaysia, saat Dijemput Ambulans, Benda Pertama yang Dipikirkan adalah Alquran

Catatan Perawat – ” Ketika ambulans datang untuk menjemput Ibu, hati ini serasa runtuh. Air mata sudah mengalir tetapi saya tahan, karena saya ingin menunjukkan kepadanya bahwa saya kuat.

Itulah ungkapan warga Malaysia, Ahmad Hafizuddin Shopian menceritakan momen sedih dan mengharukan ketika ibunya, Rohaya Ibrahim, terpaksa dibawa ke rumah sakit setelah didiagnosis positif Covid-19.

Ahmad Hafizuddin mengatakan ibunya terinfeksi virus corona dari ayahnya, Shopian Mat Nasir, 68 tahun, yang dirawat di rumah sakit tiga hari sebelumnya.

“Ayah menjalani tes cepat setelah salah seorang temannya yang juga anggota jemaah di masjid dinyatakan positif. Pada 18 Maret, Dinas Kesehatan Daerah (PKD) menelepon memberitahu ayah positif. Pagi harinya, ambulans datang untuk membawanya ke rumah sakit,” kata Ahmad Hafizuddin.

Ibu Positiv Civid-19

Menurut Ahmad Hafizuddin, keluarga yang di rumah juga menjalani tes cepat di rumah sakit karena kontak dekat dengan ayah mereka.

Sambil menunggu hasilnya, dia menitipkan anak dan istrinya yang sedang hamil ke rumah mertuanya.

“Sabtu sore, setelah sholat Ashar, Ibu dapat telepon dari PKD bahwa dia dinyatakan positif,” kata Ahmad Hafizuddin.

Yang Diingat Pertama Adalah Alquran

Sementara Ahmad Hafizuddin mengaku cukup terkejut dengan pemberitahuan tersebut. Ibunya malah tenang-tenang saja.

“Saya terkejut, dalam kepala muncul pikiran macam-macam. Tapi Ibu malah terlihat tenang. Saya bantu dia berkemas seperti saya siapkan barang ayah sebelumnya,” kata pria 29 tahun itu.

Namun yang membuat Ahmad Hafizuddin merasa terharu adalah benda pertama yang dipikirkan ibunya untuk dibawa ke rumah sakit adalah Alquran.

Menangis Melihat Ibunda Dibawa Ke Rumah Sakit

Ahmad Hafizuddin makin bertambah haru dan sedih ketika ambulans datang untuk menjemput ibunya.

“Saya merasa sangat sedih karena memikirkan usia dan kesehatannya. Usianya sudah 63 tahun,” katanya.

Menurut Ahmad Hafizuddin, ibunya sulit berjalan karena ada sekrup yang terpasang di kakinya akibat kecelakaan sebelum ini.

“Sangat menyedihkan karena saya tidak bisa menuntun ibu ke ambulans,” katanya.4 dari 4 halaman

Ini Merupakan Ujian Bagi yang Sakit dan yang Sehat

Menurut Ahmad Hafizuddin, apa yang terjadi pada kedua orangtuanya adalah ujian dari Allah SWT untuk menguji keimanan hamba-Nya.

“Allah beri ujian kepada orangtua dengan wabah. Sementara orang-orang yang tidak terkena wabah seperti saya juga berada dalam ujian Allah.

“Ini mengajarkan kita untuk lebih menginsafi. Pada saat ini, yang terbaik adalah kita semua mematuhi anjuran pemerintah. Jangan anggap diri kebal. Ketika wabah datang ke orang yang kamu cintai, kamu akan tahu bagaimana rasanya,” pungkas Ahmad Hafizuddin.

Copyright : dream.co.id

Perawatan Luka yang Harusnya Tidak Dilakukan

Catatan Perawat – Sebagaimana yang kita tahu kalau perawatan luka haruslah dilakukan dengan tujuan kesembuhan tanpa meninggalkan komplikasi dari perawatan yang kita lakukan.

Model perawatan luka bisa bermacam-macam seperti menggunakan alat steril seperti di rumah sakit atau hanya sekedar bersih, dengan prinsip steril.

Proses penyembuhan luka akan sangat berbeda antara pasien riwayat sakit penyerta seperti diabetes mellitus dengan pasien tanpa riwayat penyakit.

Apalagi jika ditambah dengan proses perawatan pada luka diabetik yang kurng baik maka akan mengakibatkan proses granulasi yg tidak baik pula.

Berikut contoh perawatan luka yang tidak sesuai menurut SPO :

Benarkah Penggunaan Disinfektan Aman untuk Tubuh Manusia?

No spraying alcohol or chlorine all over your body will not kill coronavirus

Catatan Perawat – Benarkah penggunaan disinfektan aman untuk tubuh manusia? Berikut tanggapan dari beberapa sumber terkait maraknya penggunaan disinfektan pada bilik disinfeksi untuk pencegahan covid-19 :

Akhir-akhir ini, marak digunakan bilik disinfeksi (disinfection chamber) di berbagai titik fasilitas umum, bahkan di titik masuk perumahan, untuk pencegahan penyebaran virus SARS-CoV-2 sebagai penyebab wabah COVID-19. Penggunaan yang masif ini juga menggugah para peneliti dari berbagai universitas untuk membuat bilik disinfeksi tersebut dengan semangat yang sama, yaitu berkontribusi dalam penanganan wabah yang saat ini harus dihadapi bersama-sama oleh negeri ini. Upaya pencegahan penyebaran virus dengan cara ini diadopsi di beberapa tempat oleh masyarakat, meskipun dengan menggunakan alat sesederhana botol semprot. Berbagai macam cairan disinfektan yang digunakan untuk bilik disinfeksi ini diantaranya adalah diluted bleach (larutan pemutih/natrium hipoklorit), klorin dioksida, etanol 70%, kloroksilenol, electrolyzed salt water, amonium kuarterner (seperti benzalkonium klorida), glutaraldehid, hidrogen peroksida (H2O2) dan sebagainya. Berikut tanggapan kami terkait kondisi tersebut :

  1. Disinfeksi didefinisikan sebagai penggunaan bahan-bahan kimia yang dapat membunuh kuman/mikroba (bakteri, fungi, dan virus) yang terdapat di permukaan benda mati (non-biologis, seperti pakaian, lantai, dinding) (Centers for Disease Control and Prevention, CDC) [1]. Efektivitas dari disinfektan dievaluasi berdasarkan waktu kontak atau “wet time”, yakni waktu yang dibutuhkan oleh disinfektan tersebut untuk tetap berada dalam bentuk cair/basah pada permukaan dan memberikan efek “membunuh” kuman. Waktu kontak disinfektan umumnya berada pada rentang 15 detik sampai 10 menit, yakni waktu maksimal yang ditetapkan oleh United States Environmental Protection Agency (EPA) [2].
  2. Waktu kontak efektif dan konsentrasi cairan disinfektan yang disemprotkan ke seluruh tubuh dalam bilik disinfeksi untuk membunuh mikroba belum diketahui, apalagi waktu kontak efektif terhadap virus SARS-CoV-2. Pada konsep bilik desinfeksi, baik waktu kontak maupun konsentrasi efektif akan sulit dipenuhi. EPA tidak menyarankan penggunaan produk disinfektan yang belum teruji efikasinya jika digunakan dengan metode aplikasi lain seperti fogging, electrostatic sprayer atau penyemprotan. Hingga saat ini, belum ada data ilmiah yang menunjukkan berapa persen area tubuh yang “terbasahi” cairan disinfektan dalam bilik ini serta seberapa efektif metode ini dalam “membunuh” mikroba. Ketika disinfektan disemprotkan dalam bilik ini, bisa jadi virus justru menyebar ke area yang tidak terbasahi oleh cairan ini. Hal ini dapat membahayakan pengguna bilik selanjutnya jika ada virus yang “tersisa” di dalam bilik dan terhirup pengguna tersebut.
  3. World Health Organization (WHO) tidak menyarankan penggunaan alkohol dan klorin ke seluruh permukaan tubuh karena akan membahayakan pakaian dan membran mukosa tubuh seperti mata dan mulut [3]. Penelitian yang dipublikasikan pada JAMA Network Open Oktober 2019 menemukan bahwa sebanyak 73.262 perawat wanita yang rutin tiap minggu menggunakan disinfektan untuk membersihkan permukaan alat-alat medis berisiko lebih tinggi mengalami kerusakan paru-paru kronik [4].
  4. Inhalasi gas klorin (Cl2) dan klorin dioksida (ClO2) dapat mengakibatkan iritasi parah pada saluran pernafasan (WHO) [5].
  5. Penggunaan larutan hipoklorit pada konsentrasi rendah secara terus menerus dalam jangka waktu lama dapat mengakibatkan iritasi kulit dan kerusakan pada kulit. Dan penggunaannya pada konsentrasi tinggi dapat mengakibatkan kulit terbakar parah. Walaupun data masih terbatas, inhalasi hipoklorit (OCl) dapat menimbulkan efek iritasi ringan pada saluran pernafasan [6].
  6. Penggunaan electrolyzed salt water sebagai disinfektan pada bilik disinfeksi, memiliki mekanisme dasar menghasilkan klorin sebagai disinfektan. Efek samping yang muncul akan sama seperti poin 4 dan 5. Sejauh ini, potensi penggunaan electrolyzed salt water untuk menginaktivasi virus, yang dipublikasikan pada Journal of Veterinary Medical Science, ditentukan dengan mencampurkan virus dengan air [7], sehingga waktu kontak juga berpengaruh pada efektivitas inaktivasinya.
  7. Kloroksilenol (bahan aktif cairan antiseptik komersial) yang juga digunakan sebagai salah satu disinfektan untuk bilik disinfeksi dapat meningkatkan resiko tertelan atau secara tidak sengaja terhirup. Studi pada hewan menunjukan bahwa kloroksilenol menyebabkan iritasi kulit ringan dan iritasi mata parah. Kematian terjadi pada dosis tinggi (EPA) [8]. Studi medis yang dilakukan di Hong Kong, dimana melibatkan 177 kasus keracunan cairan antiseptik komersial yang mengandung kloroksilenol, menunjukkan komplikasi serius pada 7% pasien hingga terjadinya  kematian [9].
  8. Penyemprotan disinfektan ke tubuh manusia, udara, dan jalan raya dipandang tidak efektif.  Selain itu, penggunaan berlebihan disinfektan berpotensi menimbulkan bahaya bagi kesehatan dan lingkungan [10]. Salah satunya adalah timbulnya resistensi, baik resistensi bakteri ataupun virus terutama apabila disinfektan tidak digunakan pada konsentrasi idealnya.
  9. Perlu studi lebih lanjut dalam pemilihan disinfektan yang aman dan efektif untuk bilik disinfeksi, mengingat dengan cara ini memungkinkan terjadinya kontak antara cairan disinfektan dengan kulit, mata dan dapat terhirup.
  10. Pengawasan pihak terkait dalam suatu aturan/pedoman menjadi sangat penting untuk meminimalisir efek bahaya dari disinfektan terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan.
  11. Jika disinfektan semprot memang terbukti aman dan efektif secara ilmiah, edukasi lain yang perlu disampaikan kepada masyarakat adalah bilik disinfeksi ini hanya berfungsi untuk membersihkan permukaan tubuh atau pakaian saja (mengurangi jumlah mikroba) dan tidak menyembuhkan pasien yang telah terjangkit virus corona atau jika virus sudah masuk ke dalam tubuh orang tersebut. Masyarakat harus tetap berupaya untuk mencegah pemaparan virus SARS-CoV-2 sesuai dengan poin 12.
  12. Solusi aman untuk pencegahan pemaparan virus SARS-CoV-2 saat ini sesuai rekomendasi WHO adalah dengan cuci tangan menggunakan sabun (minimal 20 detik), mandi serta mengganti pakaian setelah melakukan aktivitas dari luar atau dari tempat yang terinfeksi tinggi, serta menerapkan physical distancing (minimal 1 meter).

Copyright : fa.itb.ac.id

Referensi

  1. Kementerian Kesehatan RI Pedoman Bahan Berbahaya Pada Produk Alat Kesehatan dan PKRT; Kementerian Kesehatan RI, 2012; ISBN 978-602-235-238-9.
  2. Lowe, R.; Strazdas, L.; Quon, J.; Srikanth, M. The importance of contact time and visible wetness to ensure effective disinfection. Available online: https://www.beckershospitalreview.com/quality/the-importance-of-contact-time-and-visible-wetness-to-ensure-effective-disinfection.html
  3. World Health Organization Coronavirus disease (COVID-19) advice for the public: Myth busters. Available online: https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus- 2019/ advice-for-public/myth-busters.
  4. Dumas, O.; Varraso, R.; Boggs, K.M.; Quinot, C.; Zock, J.-P.; Henneberger, P.K.; Speizer, F.E.; Le Moual, N.; Camargo, C.A. Association of Occupational Exposure to Disinfectants With Incidence of Chronic Obstructive Pulmonary Disease Among US Female Nurses. JAMA Netw. Open 2019, 2, e1913563.
  5. Amy, G.L.; Bull, R.; Craun, G.F.; Pegram, R. a.; Siddiqui, M. Disinfectants and disinfectant by-products. Available online: www.who.int/ipcs/publications/ehc/ehc_216/en/.
  6. Slaughter, R.J.; Watts, M.; Vale, J.A.; Grieve, J.R.; Schep, L.J. The clinical toxicology of sodium hypochlorite. Clin. Toxicol. 2019, 57, 303–311.
  7. BUI, V.N.; NGUYEN, K. V.; PHAM, N.T.; BUI, A.N.; DAO, T.D.; NGUYEN, T.T.; NGUYEN, H.T.; TRINH, D.Q.; INUI, K.; UCHIUMI, H.; et al. Potential of electrolyzed water for disinfection of foot-and-mouth disease virus. J. Vet. Med. Sci. 2017, 79, 726–729.
  8. US EPA Pesticides – Fact Sheet for Chloroxylenol Available online: https://www3.epa.gov/pesticides/chem_search/reg_actions/reregistration/fs_PC-086801_1-Sep-94.pdf.
  9. Lam, P.K.; Chan, C.K.; Tse, M.L.; Lau, F.L. Dettol poisoning and the need for airway intervention. Hong Kong Med. J. 2012, 18, 270–5.
  10. Xiao, Y.; Torok, M.E. Taking the right measures to control COVID-19. Lancet Infect. Dis. 2020.